Juallah Kepandaianmu dan Belilah Kebingungan!

kesalahan dalam membuat perangkat lunak

Posted in Opinion, Software Engineering by Eko Kurniawan Khannedy on 21 Mei 2009

kebanyakan saat seseorang membuat perangkat lunak, dia akan memulainya dari membuat ERD, itupun kalo orang tersebut membuat perangkat lunak yang berhubungan dengan database. jika tidak berhubungan dengan database, biasanya orang tersebut akan langsung membaut perangkat lunak tersebut alias dengan kata lain orang tersebut akan mulai coding.

semakin banyak pengalaman orang tersebut membuat perangkat lunak, semakin cepatlah orang tersebut akan mampu menyelesaikan perangkat lunak ini. hmm dengan demikian pelanggan alias orang yamg meminta dibuatkan perangkat lunak itu akan tersenyum dan bilang, “anda hebat!”.

apa ada yang salah? hmm sepertinya tidak. tapi coba kita lihat lebih jeli dan lebih berfikir akan apa yang terjadi jika membuat perangkat lunak seperti itu.

pertama, bagaimana jika pelanggan ternyata mendapatkan perangkat lunak yang kurang sesuai dengan yang diinginkan, misal ketika kita membuat perangkat lunak sistem perpustakaan, kita hanya membuat sistem yang mampu menampung data buku, padahal ternyata tempat pelanggan tersebut terdapat peminjaman video dan kaset juga. artinya kita harus merubah perangkat lunak yang telah kita buat. dengan begitu setiap ada komplain dari pelanggan kita harus melakukan perubahan terhadap perangkat lunak tersebut.

kedua, bagaimana jika suatu saat kita akan meminta seseorang meneruskan perangkat lunak yang sedang kita bangun tadi? artinya orang tersebut harus kerja keras memahami alur perangkat lunak kita dan juga harus memahami gaya koding kita. mungkin kita berfikir , “itusih urusan orang itu”, tapi bayangkan kalo orang itu adalah kita?

lantas bagaimana untuk mengatasi permasalahan tersebut?

jawabannya cukup sederhana, “Software Engineering”. apa itu? Software Engintering atau lebih dikenal dengan “Rekayasa Perangkat Lunak” merupakan cabang ilmu yang membahas tuntas tentang pembuatan perangkat lunak, dari tahap awal sampai akhir.

dalam Software Engiinering, pembuatan perangkat lunak akan diawali dengan tahap analisis, disini kita akan cari tuntas semua informasi yang dibutuhkan untuk membuat perangkat lunak. tahap ini lebih enak jika disebut tahap mengkorek -korek informasi, misal pada kasus sebelumnya yaitu ada pelanggan yang ingin membuat perangkat lunak sistem informasi perpustakaan, maka pada tahap ini kita dituntut untuk mencari semua data dan informasi yang dibutukan. disini pula kita mewawancarai pelanggan agar memberi tahu perangkat lunak seperti apa yang diinginkan, jadi tidak akan ada yang namanya perangkat lunak yang kurang lengkap, karena semuanya yang diingkan akan dikorek disini :D dan tahap ini diakhiri dengan keterangan persetujuan berupa dokumentasi SKPL (Spesifikasi Kebutuhan Perangkat Lunak). sehingga dokumen ini menjadi batasan untuk kita dan pelanggan, jika perangkat lunak tidak sesuai dengan SKPL berarti tadanya kita yang salah namun jika pelanggan meminta yang tidak sesuai dengan SKPL berarti pelanggan yang salah.

selanjutnya dibuatlah DPPL (Deskripsi Perancangan Perangkat Lunak), disinilah dibaut dokumen berisi design tampilan untuk perangkat lunak dan juga algoritma-algoritma untuk proses yang ada dalam perangkat lunak. DPPL ini akan sangat berguna selain untuk pelanggan juga untuk programmer (jika yang melakukan koding orang lain). Sehingga dengan adanya SKPL dan DPPL pihak lain yang akan mengembangkan perangkat lunak kita akan mudah.

dan tahap terakhir adalah Testing, ada dua jenis testing pertama White Box dan yang kedua Black Box, tahap testing Black Box biasanya banyak dipilih dikarenakan tahap testing Black Box kita hanya mengetest perangkat lunak kita dengan memasukkan data-data invalid, apakah perangkat lunak kita bisa menghandlenya, jika bisa berarti lulus. Sedangkan White Box merupakan tahap testing yang sangat rumit, karena tahap testing ini lebih ke sifatnya performa, seperti pemilihan algoritma misalnya dan yang lainnya yang akan membuat performa perangkat lunak kita menjadi lebih bagus.

7 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. mbahsomo said, on 22 Mei 2009 at 10:20

    Hebat, itu yang terkadang di lupakan oleh seorang programer

  2. Arif said, on 22 Mei 2009 at 11:02

    Siip …. BlackBox and White Box jgn di spelekan

  3. ukiel said, on 22 Mei 2009 at 14:36

    bener banget…ternyata yang sering dianggap gak penting tu sangat berpengaruh pada hasil akhir pemecahan suatu masalah alias hasil akhirnya…

    go Java Lovers…….

  4. yan's said, on 26 Mei 2009 at 18:07

    wah.. jadi inget MK RPL he…

  5. aji said, on 28 Mei 2009 at 16:29

    Woi ini universitas mana seh, kok sangar banget, gw jadi ngiri nih…. !!

  6. titipala said, on 28 Mei 2009 at 17:33

    Mas echo the real java programer

    Mas Echo lebih hebat dari frans thamura,Thomas wirahadikusumah,samuel franklyn,Endy muhardin, sama ifnu

    Mas echo pokoke top habis dehh……………………………………..

    Harusnya orang orang yang disebutkan diatas itu meniru langkah Mas echo, jangan melulu cari fulus

  7. deerawan said, on 13 Juli 2009 at 11:14

    setuju bro, software engineering emang penting bgt


Tinggalkan Balasan